Pemesanan Via SMS dengan Format
Tumbasbuku;Judul;Penulis;Jumlah Pesanan;Nama;alamat ;kota/Kabupaten;Propinsi;Kode Pos
Kirim Ke 0888-0643-1002 PIN BB 2080c69d
Kegiatan tulis-menulis untuk siswa sepertinya masih belum menjadi fokus pelajaran bahasa Indonesia. Lebih nyata hal ini (tulis-menulis) pada ujian nasional yang dulu sempat ada, kini malah ditiadakan. Padahal kemampuan berbahasa Indonesia akan sangat mudah dilihat dan dinilai dari hasil tulis-menulis. Kemampuan berpikir, penggunaan tanda baca, pilihan kata, tata bahasa, dan lain-lainnya sangat nampak di sana. Tapi begitulah keadaannya sekarang.
Pagi ini tiba-tiba saya menghayalkan diri saya sebagai guru bahasa Indonesia di sekolah. Ini muncul karena barusan mengomentari status teman yang guru bahasa Indonesia. Terlintas begitu saja. Saya berpikir mengapa begitu banyak orang yang setiap ia sekolah dan sudah lulus sampai jenjang tertinggi pun mengalami kesulitan menulis. Adakah yang salah dalam pengajaran dan pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah terutama yang terkait dengan keterampilan menulis dan kebiasaan menulis.
Saya coba mencari tahu dari pembelajaran bahasa selama saya bersekolah dulu sambil bernostalgia sendiri. Di antara guru bahasa Indonesia yang sangat terkesan buat saya hingga sekarang hanyalah guru bahasa Indonesia saat SMA dulu, Pak Supriyadi. Beliau sangat rajin menulis, jauh lebih rajin dibandingkan guru lainnya meskipun sesama mengajar bahasa. Berbagai karya tulisannya sering nongol di surat kabar lokal. Bahkan majalah dinding sekolah tadinya tidak ada menjadi ada dan menjadi semakin semarak berkat upaya beliau. Sayangnya waktu itu saya belum mendapatkan tips untuk menulis, dan saya juga gak pernah bertanya meskipun ingin tahu. Budaya siswa Indonesia kebanyakan memang begitu kan?! Belakangan saya menyadari dan tahu tips menulis itu bagaimana, hanya menulis dan menulis. Nah loh tadinya saya sudah janji tidak akan menulis tentang menulis lagi. Tapi ini sekedar cerita bukan detil bahasan tentang cara menulis kok.
Selama di sekolah dasar pembelajaran bahasa memang belum terlalu fokus tentang bagaimana menuangkan ide atau gagasan, ada sih dulu pelajaran mengarang. Awalnya memang diajari cara membaca dan menulis yang diinginkan guru. Semua tahu-lah itu, bagaimana pelajaran di sd. Yah mengarang tentang tema yang ditentukan atau dibebaskan memilih. Memasuki jenjang sekolah menengah pertama belajaran lebih banyak fokus ke tata bahasa, dan sastra. Berlatih tata bahasa dengan EYD-nya itu. Untuk sastra belum begitu kuat tuntutan untuk membuat karaya sastra walau sederhana. Malah waktu itu lebih banyak menghafal karya-karya sastra, pujangga-pujangga besar, bahkan sesekali diminta menghafal puisi, pantun. Pernah suatu ketika ada lomba menulis tingkat sekolah, lomba mengarang. Saya mengikutinya dan menang. Sudah sekali itu saja saya menulis atau tepatnya mengarang dalam ajang lomba. Selebihnya tidak pernah sama sekali. Masuk ke sekolah menengah atas, kondisinya tidak jauh beda cara pengajaran bahasanya.
Kegiatan tulis-menulis untuk siswa sepertinya masih belum menjadi fokus pelajaran bahasa Indonesia. Lebih nyata hal ini (tulis-menulis) pada ujian nasional yang dulu sempat ada, kini malah ditiadakan. Padahal kemampuan berbahasa Indonesia akan sangat mudah dilihat dan dinilai dari hasil tulis-menulis. Kemampuan berpikir, penggunaan tanda baca, pilihan kata, tata bahasa, dan lain-lainnya sangat nampak di sana. Tapi begitulah keadaannya sekarang. Kemampuan berbahasa Indonesia hanya dilihat melalui kemampuan memilih jawaban yang tepat sesuai kunci jawaban. Bagaimana ini bisa menumbuhkan kemampuan menulis siswa. Jadi pantaslah kalau kemampuan menulis orang kebanyakan sangat buruk, lebih tepatnya malas menulis, tidak bisa menulis. Alasan itu pula yang mengokohkan diri kebanyakan orang Indonesia untuk tidak mau menulis. Selama sekolah tidak ada pembiasaan menulis, apalagi keterampilan menulis. Walaupun sekedar untuk mengungkapkan perasaan saja kesulitan.
Bagaimana mengubah semua itu? Siapa yang berperan utama dalam membiasakan budaya menulis? Mulai kapan? Semua pertanyaan itu terjawab melalui dunia pendidikan, pelajaran bahasa Indonesia. Apakah harus melalui pelajaran bahasa Indonesia? Tentu tidak harus pelajaran apapun bisa memanfaatkan pelajarannya dengan gaya menuliskannya. Menuliskannya apa yang dipelajari dan apa yang dikuasai siswa. Ah terlalu tinggi kalau yang terakhir itu.
“Andai saya guru bahasa, siswa akan saya minta membuat tulisan bebas setiap minggu atau sebulan sekali. Tulisan tentang apa saja dari siswa, yang penting orisinal, akan saya bukukan semua. Itu akan jadi bahan belajar bersama di sekolah. Inilah pelajaran bahasa Indonesia yang akan memberikan pembelajaran menulis yang sesungguhnya. Menurut saya kuncinya adalah bebaskan gaya menulis siswa, itu dapat jadi bahan kupasan menarik di kelas nantinya. Saya juga akan rajin menulis agar bisa dijadikan teladan bagi siswa saya”. Demikian tulisan pada dinding facebook saya pagi ini.
Tapi saya bukan guru bahasa Indonesia. Jadi teringat sewaktu menonton acara Kick Andy di MetroTv. Ada seorang guru fisika yang mengajarkan pelajaran fisika kepada muridnya dengan cara membuat cerita. Cerita dari apa yang ia pelajari, bahkan menggunakan personafikasi apa yang dipelajari. Sangat menarik. Saya mengajar kimia, akan saya coba juga nanti. Akan? Yah akan, Sebab sekarang saya sedang berlibur, tidak mengajar. Tahun ini saya mengajar kimia dan TIK untuk siswa kelas 12, mereka selesai ujian nasional, kini tinggal menunggu kelulusan UN-nya.
Mari membudayakan menulis dengan apa yang kita ajarkan, pelajaran apapun itu.
http://urip.wordpress.com/2011/05/05/andai-saya-guru-bahasa-indonesia/